Tak Berkategori

Kenangan indah itu bagiku bagaikan sebuah emas. Karna ia sangat berharga.

#Fenilintar

View on Path

Iklan
CERPEN

“ Racun Kecil ”

Oleh: Feni Lintang Utari

Hari ini tak tertahan kan untuk menahan rasa sakit hati yang aku rasakan saat mendengar perkataan saudara ku yang menghina keluargaku.
“ sebenernya dari dulu saya tuh benci sama roni ( ayahku), apalagi kalau melihat wajahnya pengen muntah saya! kalau tidak kasihan dengan ersa ( ibuku) aku tak mau menampung anak-anaknya yang menyusahkan ini” kata kakak perempuan ibuku. Ia yang sedang berbicara dengan tetangga –tetangga, mungkin ia berfikir bahwa aku yang berada dikamar sudah tertidur makanya ia berani berkata seperti itu dibelakangku.
Aku menangis seketika aku mendengar perkataan itu. Aku sangat benci dengan nasib yang aku terima dalam hidup ini. Aku rasa aku ingin meninggalkan rumah yang sudah seperti neraka ini bagiku, tapi aku lebih berfikir panjang lagi . jika aku pergi bagaimana dengan adik ku dan juga pasti ibuku kan lebih sedih saat aku pergi, setelah berfikir panjang aku akhirnya memutuskan untuk bersabar semua demi adik dan ibuku.
Ketika aku harus mengulang cerita masalalu ku , dimana aku harus mengulang juga ceritaku yang sangat menyiksa batin pada saat itu. Aku renata putri, anak kedua dari tiga bersaudara. Aku adalah anak yang hidup sederhana bersama keluargaku yang bisa dikatakan tak harmonis. Kami hidup terpisah mulai dari ibuku yang harus berkerja diluar kota yang mana aku harus tinggal bersama saudara dari ibuku, aku tinggal disana hanya berdua dengan adik ku sasa sedangkan kakak ku tinggal dikampung yang tak jauh dari rumah saudara ibuku ini . kira-kira hanya 2 jam perjalanan waktu tempuh nya dan ini sejak kepergian ayahku tiga tahun yang lalu.
Menurut ku kebanyakan orang aku seperti laki-laki atau yang yang biasa disebut Tomboy. Tapi, akupun tak pernah risih dengan panggilan itu karena mungkin pertama aku sudah terbiasa dengan panggilan itu. Menurutku aku orang nya asik hehe ya itu sih menurutku , kalau menurut orang lain aku tak tahu. Sudah sekitar 3 tahun aku berada dirumah ini yang penuh akan tekanan batin yang mungkin membuat aku pusing dan selalu merasa tertekan . Dengan perasaan seperti itu aku selalu mendiam dan murung, bukan karna aku pendiam mungkin semua karna masalah yang terjadi. Setiap hari aku dimarahi oleh saudara ibuku itu ! aku tak mengerti dengan keadaan yang aku alami, lalu aku harus cerita dengan siapa?! Sedangkan aku bukan orang yang mudah percaya dengan orang lain. aku merasa sedih dengan apa yang terjadi dengan hidupku , selain jauh dari orang tua , aku juga selalu tertekan. Aku tak ingin menjadi anak yang lemah. Tapi keadaan ini memaksa ku untuk menjadi seperti anak yang tak berguna, aku hanya bisa menangisi setiap keadaan yang terjadi, mulai dari disalahkan, dituduh mencuri uang, bahkan dicaci-maki, belum puas dengan itu semua, selama 3 tahun aku tinggal disana sudah 3 handpone yang hilang. Aku merasa sedih dengan semuanya. Aku tak pernah merasakan bahagia, bukan karna aku suka mengeluh tapi ini faktanya , kehidupan pahit ini harus aku alami diumurku yang masih belia ini. Aku sungguh merasa bahwa aku Depresi. Aku selalu menangis disetiap malamku. Tak lepas dari itu, sejak saat itulah aku sering sakit-sakitan.
“ Rena main yuk!!! bawa gitar ya men..” suara bagas yang tiba – tiba memecah lamunanku.
Bagas adalah teman mainku dirumah kami sering menghabiskan waktu malam dengan bermain gitar. Walau aku belum terlalu bisa tapi aku yakin aku akan bisa jika aku belajar. Teman mainku lainya adalah Robi, Malik, dan oji. Kami biasanya main di jalan tengah yang berada didekat rumah ku. Suasana malam ini disana sangat sejuk ditambah angin yang berhembus dan juga langit yang di penuhi dengan bintang-bintang. Jalan tengah itu adalah jalanan kosong yang jarang digunakan pengendara bermotor karna jalanya yang gelap. Tapi bagiku jalan itu dijadikan tempat untuk bermain dimana aku dan teman-temanku bisa mengekspresikan diri dengan bernyanyi dan mendendangkan suatu tembang yang di ayun kan melalui suara petikan- petikan gitar yang memecahkan suasana sepi di jalan tengah ini.
Sambil mengisap sebatang demi sebatang rokok Bagas, Robi, Malik dan Oji bernyanyi riang. Aku tau posisiku saat itu adalah bermain dengan orang yang salah. kenapa?! Karna aku bermain dengan teman – teman ku yang rata- rata seorang perokok. Tapi hal itu tidak membuatku untuk mencoba apalagi sampai minum – minuman keras seperti apa yang mereka lakukan .
“ Ren, Coba Deh . . .” Oji menyodorkan sebatang rokok yang sudah menyala kepadaku.
“ Maksud lo apa? Ngasih gue ginian? “ bentakku
“ oh lo jangan salah paham dulu rena. . .” ia mencoba menenangkanku dan ia langsung menghisap kembali rokok itu.
“ gue cewek baik – baik ya, sampai kapanpun gue gaakan mau mencoba barang seperti itu. Catet dan inget diotak lo! “ aku menunjuk kepalanya.
“ oh sebelumnya sorry ya ren. . Tapi sebelumnya lo gausah muna deh, gue tau keluarga lo , gue tau masalah –masalah lo dan gue juga tau semua tentang lo!!! Dan dengan pertemanan kita yang selama ini gak mungkin gue gatau tentang hidup lo, disini gue cuma mu bantu lo untuk tenang dan tetep santai sist untuk menjalani hidup ini “ ia tetap saja membujuk ku yang kini mulai kesal.
Bagas , Robi dan Malik mulai terdiam dan mendengarkan percakapan kami.
“ Sampai kapan pun gak akan pernah gue mencoba barang itu!!!” tegasku
Lalu aku mengambil gitarku dan lantas pergi dari situ
“ Tunggu Ren. .. .” Malik menarik tanganku
“ ada apa sih lik? Gue gamau ya berteman sama orang yang salah . mungkin selama ini memang gue terlalu bodoh mau berteman sama kalian! Seorang perokok dan secara gak langsung kalian akan membunuh gue dengan barang itu !” tegasku
“ oke .. oke.. ren dengerin gue dulu ya. Jangan emosi gitu dulu ..” ucap malik
“ Stop untuk melarang gue, sumpah ya, gue udah males main sama kalian, apa untung nya gue main sama kalian, jika gue harus terjerumus dalam pergaulan yang salah. Pertemanan yang benar bukan malah menjerumuskan temannya ke jalan yang salah. ” jawabku .
Lalu aku pergi meninggalkan mereka yang kini terdiam dan suasana pun menjadi hening seketika tak ada suara alunan petikan gitar bahkan suara makhluk pun tidak ada.
***

Matahari kembali menyapa langit yang kini mulai menuju warna kebiruan menambah indahnya suasana pagi yang sejuk ini belum lagi suara burung yang berkicau seolah memainkan sebuah lagu yang indah dan merdu.
Aku mulai memakai sepatu yang bermerk ‘All Star’ dengan sepatu tinggi dan tali yang panjang mempersulitku untuk memakainya, belum lagi jam sudah menujukan Pukul 06.25. sedangkan jam masuk sekolahku pukul 06.30. kini aku mulai tergesa – gesa dalam menjalani panjangnya jalan ini, aku lari dengan kecepatan tak karuan. Untungnya sekolahku tak jauh dari rumah, ya kira – kira 100 meter, jadi aku bisa menempuh nya dalam waktu yang singkat. Aku kembali melihat jam dan langsung berlari sekeras mungkin. Rok yang sempit dan ketat ini tak ku hiraukan lagi, yang ada dipikiranku kini hanya agar aku dapat kesekolah dengan waktu yang tepat dan tidak telat. Aku tidak ingin telat kesekolah karna aku akan menjaga image baikku sebagai murid teladan di sekolah. Dengan disiplin, kita akan terbiasa dalam menghargai waktu yang berputar dengan cepatnya.
“Jane mana? “ tanyaku kepada sari, jane adalah teman sebangku ku disekolah.
“ Sepertinya dia tidak masuk, dia bilang kalau ibunya sakit dan harus dioprasi hari ini” sari menjawab pertanyaanku
“ oh makasih ya sar..” aku tersenyum lalu melanjutkan untuk duduk dibangku dengan urutan nomor 3 dari depan.
Aku merasa sepi hari tanpa adanya jane disampingku, aku berencana ingin menjenguk ibunya sepulang sekolah nanti.
“ sar ibunya dirawat dimana? Ruang apa? “ teriaku
“ rumah sakit budi sejahtera ruang banggo “ jawabnya
“ thanks ya sekali lagi “ aku kembali duduk.

Aku sangat malas untuk sekolah hari ini, padahal aku ingin cerita mengenai kejadian malam kemarin. Huftt, ya sudahlah nanti saja aku menjenguk ibunya. Tapi aku bingung aku mau naik apa kesana . sepertinya tak masalah jika aku jalan kaki saja. Tapi jalanannya jauh, ah terserahlah aku jalan saja.
***
Panasnya matahari sangat terik hari ini sampai – sampai kulitku seperti mau hangus dibakar matahari. Rasanya pun sangat terik,aku jadi malas jalan nih. Tapi semua demi temanku si jane.
D ijalan aku bertemu dengan robi, malik dan bagas aku bingung apa yang harus aku lakukan sedangkan aku masih sebal dengan masalah yang semalam.
“ Renataa….” terikan itu seperti memanggil namaku , aku menoleh kebelakang dan mencari yang memanggil namaku. Oh ternyata ia adalah robi yang berada tepat dibelakangku, aku sangat risih dengan keberadaan dia disini.
“ Ren tunggu gw pengen ngomong sama lo! ” robi menahan pundakku
“ ada apa lagi sih rob, sudah ya cukup gue males berdebat ama lo semua ! ” ucapku.
‘Teng teng teng dung tang tang dung teng teng ” ( Suara hp ku berbunyi)
“ hallo jane apa kabar? Gw pengen ke rumah sakit nih menjenguk ibu lo” aku langsung menyela pembicaraan
“ rena . .lo bisa kesini ga? Ibu gue lagi kritis gue gatau harus gimana? Rena please kesini gue butuh temen “ dengan sambil menangis jane menuruhku untuk ke rumah sakit.
“ oke.. oke.. gw kesana sekarang” aku langsung naik motor si robi dan jalan menuju rumah sakit.
Sesampainya disana aku sungguh tak tega melihat jane yang sedang menangis , ia duduk dipojokan diantara meja dan kursi sungguh dia seperti anak yang depresi sangat ketakutan, mungkin karna dia anak tunggal dan tak memiliki ayah makanya dia ketakutan, aku tak tega akhirnya akupun meneteskan air mata , bukan karna lemah aku menangis tapi karna hatiku sudah tak kuat menahan rasa sedih yang sangat amat ini.
“ renaa… “ jane memelukku
“ iya jane ada apa? Gue sudah ada disini lo jangan sedih ya jane” sahutku
“ gue gakuat ren, gue gak sanggup, gue gatau harus bagaimana lagi tapi. gue juga gakuat melihat ibu gue yang sedang kritis didalam dengan kondisi yang sedikit mengenaskan , luka yang ia miliki semakin hari semakin melebar dan dia juga sesak nafas, aku takut renataa, aku harus bagaimana dengan keadaan ini” dia menangis dipelukanku
“ memangnya ibu lo sakit apa ? sudah lo yang sabar ya ada gw disini” aku mengusap – usap kepalanya.
“ dia mengidap penyakit kangker paru – paru ren, ibu gw itu sering banget merokok , mungkin karna masalah yang selalu terjadi di kehidupan gue, mulai dari ayah yang selingkuh, saudara yang selalu mencampakan dia dan bos yang selalu memaksa dan menuntut hutang – hutang nya , apa ya salah gue sampai gue bisa merasakan kehidupan yang pahit, tuhan memang jahat sama gue, semua terasa gak adil buat gue “ .
“ ren tuhan itu gajahat ren lo gaboleh ngomong kaya gitu, tuhan tidak akan memberika cobaan kepada umatnya melebihi kemampuan umatnya dan tuhan memberikan cobaan juga karna ia sayang sama lo. Jangan berfikir bahwa allah jahat, dan satu lagi jangan pernah mengeluh dengan masalah ini jangan pernah membuat lo lemah, kita wanita! kita adalah makhluk terkuat dimuka bumi ini. Tetaplah semangat ya , liat aja gw berapa banyak masalah gw, berapa kali allah memberi cobaan ke gw, tapi gw masih bisa tertawakan sama lo sama kalian dan sama mereka karna gw yakin karna semua kan berakhir dengan indah” ucapku
“Kreekkkkk” ( suara pintu ruang UGD dimana ibu jane di rawat)
Dengan muka yang lemas dan sedih datang menghampirikami yang sedang duduk di kursi sebelah pintu.
“ saudara jane saya sangat menyesalkan semua ini bukan karna saya tak mau tapi tuhan berkhendak lain saya harap kamu bisa bersabar ya “ ucap dokter yang tiba – tiba memecah percakapan kami.
“ jadi maksud pak dokter ??!!!!” tanya jane
“iya jane saya minta maaf” lantas dokter itu melanjutkaan
Jane tak kuasa mendengar kabar yang sangat buruk itu, kini ia hanya sebatang kara dan bingung mau melakukan apa , ia memang anak yang terlahir dari keluarga tak sempurna , dan juga kini ia harus menerima bahwa ia harus kehilangan ibunya juga. Sungguh malang nasib jane.
“ jane sayang sabar ya jane disini gw dan robi akan selalu ada buat lo, jagain lo dan bersama – sama terus sama lo, lo jangan sedih ya “ ucapku
Aku juga sebenarnya bingung dengan semua ini, aku yang hidup dengan sejuta masalah masih bisa bersabar dan bertahan dengan berbagai macam cobaan, tapi semua itu tak akan membuatku menyerah dalam melawan pahitnya kehidupan yang sedang kita jalani, mungkin aku boleh berteman dengan laki – laki tapi aku tidak harus menjadi seperti laki- laki malah kujadika itu sebagai tempat untu berbagi. Kedua aku berteman dengan seorang perokok bukan berarti aku juga harus merokok atau bahkan dipaksa untuk merokok. Ketika aku selalu di marahi oleh oleh sudara ibuku itu aku dapat menahan semua cacian walau sebenarnya aku tak bisa. Tapi apasih yang tak bisa dilakukan didunia ini jika aku berusaha.
“ Lo bisa lihat sendiri kan rob, karena rokok lo bisa kehilangan seseorang yang paling lo cintai sekalipun. Gue semalem marah sama lo bukan karna gue benci semua itu karna gue sayang sama lo, jadi gue harapkan kita bisa menjalin lagi pertemanan ini dari awal dan menjadika ibunya renata sebagai contoh, bahwa rokok itu pembunuh bukan penyelesai masalah, tetaplah berpegang teguh sama allah karna allah adalah satu – satunya tempat dimana kita harus berharap dan mengadu “ ucapku.

Exp: Jakarta, 26 September 2014

Puisi Kehidupan

~ Sehelai daun kuning ~

~ Sehelai daun kuning ~

Kala itu aku terjatuh ke tanah
Aku lunglai lemah dan tak berdaya
Hanya pasrah akan keadanaan
Karna kini aku tlah tua
Daun hijau nan segar
Yang banyak dipuji orang
Kini tinggal harapan
Karna aku tlah layu
Smakin lama aku smakin lemah
Aku layu dan kini aku tlah jatuh
kembali ketanah
Dimana tempat ku dulu tumbuh
Hingga kini aku mulai membusuk
Aku bau! Tak ada yang mau menemaniku
Aku sendiri aku merasa tak berguna
Kini aku sendiri yang hanya ditemani sepi.

~Feni Lintang Utari~

Exp: 5 juni 2014, jakarta

Puisi Islami

~Wudhu~
Oleh: Feni Lintang Utari

Kusentuhi tubuhku dengan setumukan air yang mengalir di bawah kemesraan alam yang mempesona dan menganugrahi aku dengan keindahan.
Ia mulai menenangkan jiwaku yang merasa tak tentram dengan kehalusanya.
Merombak rasa risih dihati lalu menjebukan hatiku kedalam lautan air nan sejuk
Seketika hatiku dapat tersenyum kembali setelah menerima sentuhan itu
Kau cipatakan kesucian dengan membasuh seluruh tubuhku dari awal hingga akhir,
Kau celupkan setetes kedamaian mu ke hidupku
Kamu mampu membuatku Terhanyut didalam kedamaian dengan Air mu itu

CERPEN GAUL

5 KG UNTUK FREEDY

” 5 Kg untuk FREEDY”

Oleh: Feni Lintang Utari

Pagi itu sinar matahari benar-benar membakar kulit , suara burung camar yang mulai terdengar di lingkungan yang masih sejuk. tepat pukul 7 pagi rosi bangun dan mengambil timbangat berat badan yang berada diatas lemari bajunya yang tak terlalu tinggi. Lalu iya mulai melepaskan sendal yang dikenakan dan menaikan kakinya satu per satu ke atas timbangan itu. Ia pun menangis seketika.

” ihhh ko berat badanku ga naik-naik ya padahal aku semalam sudah makan bakso 2 mangkok dan 2 porsi mie ayam, tapi kenapa berat badanku ga mau naik- naik, aku juga sudah 2 minggu ini rutin makan-makanan yang berlemak agar cepet gemuk. apa yang harus aku laKukan, aku harus gemuk agar aku bisa pacaran dengan cowok idola disekolahku, harus, dan bagaimana pun caranya..!! ” Rosi yang mulai kesal kini sedang mencari akal, iya memutar-mutarkan kedua bolah matanya juga disertai kakinya yang seperti orang mau menjahit , goyaaaanggg mulu ga berhenti-henti.

“Aha aku tau caranya ” lanjutnya denga muka yang ngeselin. Lalu dia bercermin tertawa-tawa sendiri.

Keesokan harinya ia pergi kesekolah dengan semangat , karna hari ini ia begitu berharap agar ia bisa memenangkan sayembara, untuk menjadi seorang pacar idola sekolah, ya dia adalah FREEDY cowok ganteng, manis kaya dan juga yang berbadan gemuk dan tinggi , ya soalnya dia anak basket sekolah, pokoknya keren deh dia. Kalau kalian mau tau Zein malik Kalahh!! Hheehehe

Ketika istirahat, yak ini adalah waktunya, puluhan cewek-cewek yang mau mengikuti sayembara mulai mengantri dan kebetulan Rosi kebagian nomor antri 99 dan itu nomor trakhir.

“HuuuFfftt.. Tak apalah nomor antrinya 99 yang penting aku masih memiliki kesempatan untuk jadi pacar Freedy, lalu ia mulai senyam senyum sendiri.

Syarat yang diberikan freedy sih Mudah ko, pertama tinggi 165, aku mencapai lalu punya mobil ” aku juga punya” ketiga anak moderen dance ” ya aku banget” “berambut panJang dan berbadan putih ” nah ini aku semuaa” kelima berat badanya harus 50kg. “Yah yang ini nih bikin galau tingkat Kemayoran nih , sedihhh, sediiih, , berat badanku hanya 45, bagaimana iniii” ini mulai gelisah kembali.

“Nomor 90 silakan masuk ke ruangan” suara panitia yang menyeleksi sayembara ini.

Rosi yang tadinya santai mulai gelisah deg degan duduk berdiri duduk berdiri gabisa diem deh, lalu dia meminum air sebanyak-banyak nya dan sambil ngemil roti yang besar sekali. Pokoknya dia smakin gelisah udah kaya ulat nangka uget uget gabisa diem.

“Nomor 98 silakan masuk ke dalam ruangan ” suara itu mengatakan nomor 98 , wah 1 nomor lagi

Dan tibalah waktunya dia mulai menyisir memakai lipstik dan parfum bedakan segala macem deh sampe-sampe dia pake deodorant.

“Yang trakhir nomor 90 silakan masuk” wah aku dipanggil,

Rosi mulai jalan ke ruangan .dengan gerasak grusuk dengan semangat 49 dia melangkah demi melangkah, asiik semoga berhasil

“Teeeeeeeeeeeeetttttt teeeeeeeeeeeeeetttttt… teeeeeeeeeeeeeeeeeeeet” Terdengar suara bell yang menandakan pelajaran harus dimulai dan tandanya batas sayembara ditutup.

” Mhh sorry ya Rosi, batas sayembaranya sudah habis, terimakasih”

Rosi yang tadinya smangat kini mukanya seperti lontong sayur lemess..

Hehe sekian dan terimakasih tulisan saya. Maaf jelek :-p

Puisi Cinta Ku

Siapa aku?

~ Siapa aku? ~
Oleh : Feni Lintang Utari

Kata sebal sudah tak pernah kau dengarkan
Rasa ingin menangis sudah lelah kulakukan
Rasa kecewa sudah lelah aku katakan
Lantas apa yang harus aku lakukan?

Bukan kah ini sebuah perubahan ?
Mengecewakan !
Tapi tak adakah sepotong pengrtian
Untuk beriku kebahagiaan

Terkadang pagi menyinariku dengan senyuman
Tapi ketika malam kau buat itu jadi tangisan
Bisakah aku meraih kebahagiaan?
Aku menagis sendirian!

Skrng aku tak akan banyak kata
Tak menghiraukan lagi arti cinta
Aku harus menerima kalau ini nyata
Dan kau terserah mau belaku apa

Pasangan hati
Bisakah mengerti
Tentang perasaan ini
Karna aku yang tersakiti

Syair perpisahan

Syair Perpisahan

Hari itu smakin mendekat
Mendekat dan tak pernah pergi
Ia selalu berjalan tanpa memandang siapa aku
ini takdir yang harus kita jalani

Kurasakan tetesan air yang mengalir di pipiku
Yang membawa hatiku ini merasa
Kesedihan akan perpisahan
Bukan mau ku!
Tapi Takdir!!

Semua kenangan ku bersama kalian kini hanya menjadi memorian
Yang tak akan pernah kulupakan
Tawa kalian, canda kalian, senyuman kalian bahkan cacian kalian mungkin akan kurindukan.
Kawan? Benarkah ini perpisahan?

Kebersamaan kita slama ini melumpuhkan kita
Kita tak menyadarinya
Kita tak pernah mEnduga
Tiba – tiba saja tiga tahun silam itu memberi kita sebuah kado perpisahan

Tidakkan engkau sedih ? Tidak kah engkau menangis?
Tidakkah engkau merindukan? Akan sejuta kenangan?
Tidakkan engkau tersenyum? Tidakah engkau berduka? Tidakkah engkau tertawa? Dan tidakkah engkau galau?
Jika mengingat diary kita Di SMK 3 jakarta

Terkadang aku sangat menyesali perlakuan burukku pada kalian,
Tapi aku tak bisa memungkiri kalau aku pun takut kehilangan kalian,
Terkadang aku menangis sedih melihat kisah kalian
Karna disini aku bisa merasakan

Tapi bagaimana besok?
Aku dan kalian akan dipisahkan oleh 3 tahun silam.
Apakah kalian berharap waktu akan terulang?
Pasti, namun itu tak akan pernah terjadi.

Mau ga mau, aku harus merelakan kalian.
Selamat menempuh kehidupan sebenernya kawan
Dimana permasalahan dan persoalan itu akan lebih sulit dibandingkan dengan ujian matematika yang diberikan pak bahar, akan lebih sulit dari mengitung akuntansi, lebih sulit lagi dari soal soal yang diberika bu zil bahkan lebih sulit lagi dari membuat agenda perjalan bisnis juga mengarsip

Kini lihatlah wajah guru – guru kita
Pandanglah mereka
Tatap mereka
Tanyakan? Apa yang telah mereka berikan?
Renungkan dalam hati kita.

Coba ingat lagi ke dua tahun silam
Apa yang kita lakukan kepada mereka?
Melawan? Membuat sedih? Tidak mengerjakan tugas?
Lalu lihat lagi wajah mereka?
Smakin tua bukan? Tidakan engkau kasihan !

Mereka berusaha membuat kita menjadi manusia berguna.
Tapi kita slalu mencemooh mereka dibelakang kita
Mereka ingin kita menjadi generasi yang sukses
Tapi kita saja tak mau usaha bagaimana kita akan merdeka

maka dari itu mari kita menjadi titik – titik air diangkasa yang berkumpul menjadi sebuah awan , yang lalu menghujani tumbuhan baru, menyuburkan dan menghidupkan mereka akar tanaman itu bisa seperti kita.

Selamat Menempuh hidup baru tanpa aku, tanpa kawanmu, tanpa temen sebangkumu, tanpa gurumu, dan tanpa smk 3. Tapi ingat kalian tidak akan pernah lepas dari kenangan yang kini tlah tercatat di sanubariku :’)

Terimakasih untuk kalian yang telah mempolesi warna yang bermacam macam dan sangat indah .
Terimakasih temen yang dulu sering aku titipi tugas,
Terimakasih untuk teman yang sering berbagi makanan denganku.
Dan terimakasih untuk guruku. Kau adalah Matahari diatas kegelapan yang mampu menerangi jalan suksesku kiss emotikon
Terimakasih kawan, terimakasih guru,

Puisi Cinta Ku

Rintihan Hati

Biar semua ini aku rasakan dulu
Sampai saatnya engkau mengerti
Akan sebuah arti kesabaran
Atas kedukaan slama ini

Bukan memohon ku mau
Aku hanya inginkan perdamaian hati
Jangan buat aku mengeluh akan rasa
Biarkan aku bahagia dengan cinta

Kau tau aku tak kuasa
Tapi kau buat ku harus selalu cerita duka
Aku lelah jikalau aku ingatnya
Aku akan pergi dan terbang bersama rasa ini

Aku tak akan pula ingin kembali jika aku sudah lelah
Tapi aku akan meningalkan jejak jejak cinta yang kau abaikan
Biarkan aku melukiskan kesedihanku dengan rangkaian aksara yang kupunya untukmu
Walau tak seindah syair sang legenda tapi ini adanya

Puisi Kehidupan

Inikah Kenyataan

Tuhan
Kau tau yang kini hatiku raskan
Tercabik cabik oleh silet yang tajam
Menusuk hatiku sampai terdalam

Hati
Sabar ya sayang
Suatu saat kita akan terbang
Bersama mimpi dan harapan

Tuhan
Izinkan aku persembahkan
Rasa sakit ini untuk dihilangkan
Karna aku sudah tak sanggup dengan cobaan

Hati
Biarkan kita tersakiti untuk saat ini
Mungkin ia belum menyadari
Semua perkataan yang membuat ku mati

Tak Berkategori

Tak Sesuai Harapan

” Tak sesuai Harapan ”

Oleh: Feni Lintang Utari

Kian terpuruk kedalam kendi berisikan air panas
Memangsa kulit
Mencincang perasaan batinku
Dimalam ini

Aku datang
Ingin bermata senang dan hati bahagia
Tapi
Ternayata harapanku
Membawaku untuk
Menjadikan mata ini seperti ar terjun
Mengalirkan air yang deras
Dan tak pernah berhenti mungkin

Aku tak pernah inginkan semua ini
Aku ingin bahagia
Semua hanyalah mimpiku semata
Tapi ternaya sang pencipta
Belum berkata

Aku menungggu, Menanti
Jawaban
Untuk kesekian
Atas penderitaa